Awalnya, Informasi
kacangan yang kudapatkan dari seorang sahabat ku yang tinggal di Jakarta
tentang Pijet Plus² gamblangnya bisa dibilang Servis Ngentot pada
suatu tempat di daerah Bogor “Namanya ‘Jingalu Message’, berseberangan dengan
Pasar Baru.
“Biaya nya paling 150
rebuan sejam,” katanya.
“Perfect gak ayamnya?” tanyaku ragu.
“Lu tau kan selera gue? Pokoknya kagak nyesel deh.”
“Perfect gak ayamnya?” tanyaku ragu.
“Lu tau kan selera gue? Pokoknya kagak nyesel deh.”
Dengan agak ragu
akhirnya aku meluncur juga ke sana. Tak sulit menemukan tempat ini. Hanya
jangan ke sana siang atau sore, macetnya gak ketulungan. Waktu yang ideal
sekitar jam setengah delapan malam, traffic sudah lancar dan belum banyak
pelanggan lain sehingga kita leluasa memilih ayam sesuai
selera kita. Dari depan tempat ini memang biasa saja, hanya pintu kaca yang
tertutp rapat dengan stiker Jingalu Message. Dengan gaya pede n terus terang
deg²an aku langsung Kakuk, juga supaya tak sempat ada yang mengenaliku di
pinggir jalan raya ini.
Di ruangan yang remang itu ada satu set sofa
yang diduduki dua sampai 3 cewek yang berpakaian serba minim. Sejenak aku
menyapu pandangan, setengah bingung. Tapi hanya beberapa detik. Salah satu dari
mereka langsung bangkit dari duduknya begitu melihatku.
“Mau Pijet Kak, Ayo..!”
Putih, berwajah Indo, tingginya sedang, rok
supermini memamerkan sepasang paha putihnya yang juga.. besar. Hasil
evaluasiku: cewek ini serba menonjol dan serba besar.
“Ayo Kak, lihat-lihat dulu ke belakang,” ajaknya
lagi ketika aku Fokus terpaku.
Digandengnya tanganku, dibawa melalui pintu kaca
lagi di belakang ruangan itu. Kami melewati lorong lumayan panjang yang di
kanan-kirinya terdapat pintu-pintu kamar terus ke belakang. Pantat besarnya
geal-geol seirama langkah kakinya. Sampai di ujung lorong, dia berhenti di
depan jendela kaca nako.
“Pilih-pilih dulu aja kak,” katanya sambil
menutup kaca nako itu.
Rupanya jendela ini
tempat mengintip ke ruangan besar di baliknya. Kaca nako yang dilapisi “glass
film” gelap memungkinkan Aku melihat bebas ke ruangan besar itu tanpa dilihat
penghuninya. AMAZING!!!! Sahabatku ternyata tak beromong kosong. Di ruangan
besar itu banyak berisi sofa dan di atasnya tergeletak belasan ayam yang
sungguh membuatku menelan ludah beberapa kali. Kebanyakan mereka duduk-duduk
sambil nonton TV. Ada yang lagi ngobrol, ada yang berdiri di depan cermin
mematut dandanannya. Umumnya, model pakaian yang dikenakannya minim terbuka di
dada dan paha. Bahkan cewek yang persis lurus pandanganku duduk acuh celana
dalam putihnya kemana-mana”. Hanya beberapa saat di situ mataku sudah menebar
ke seluruh ruangan. Hasilnya, bingung! Semuanya menggiurkan.
“Yang mana, Kak?” tanya
pengawalku Si Serba Besar ini.
“Tau nih, bingung aku,..”
“Si-A pijitnya enak, Si-B servicenya jago, Si C mainnya yahut..” katanya berpromosi.
“Tau nih, bingung aku,..”
“Si-A pijitnya enak, Si-B servicenya jago, Si C mainnya yahut..” katanya berpromosi.
Aku tak begitu mendengar promosinya, lagi asyik
meneliti satu persatu cewek-cewek itu buat menetapkan pilihan tubuh yang pas
dengan idolaku. Pijit, service, main?
“Servicenya apa aja?”
akhirnya aku nanya ke Si Besar, tapi mataku fokus ke kandang ayam.
“Apa aja, terserah Kak aja. Di dalam nanti baru tahu,” katanya sok berteka-teki.
“Apa aja, terserah Kak aja. Di dalam nanti baru tahu,” katanya sok berteka-teki.
Pakaian yang mereka kenakan, terbuka dada dan
paha, membantuku untuk lebih cepat menentukan pilihan. Akhirnya aku memantapkan
tiga orang terbaik untuk di observasi lebih teliti. Yang bergaun biru tua itu..
hmm.. Wajahnya cantik, kulit bersih, paha mulus. Sayangnya, Payudara nya tak
begitu “menjanjikan”. Bukannya kecil sih, Fokus punya belahan. Hanya Aku ingat
pesan kawanku tadi.
“Pilih yang berdada
besar,” katanya.
“Kenapa?”
“Gak usah banyak tanya, cobain aja.”
“Kenapa?”
“Gak usah banyak tanya, cobain aja.”
Untungnya, seleraku memang toket yang gede dan
montok. Yang bargaun hitam lebih seksi, body-nya menggitar, wajahnya nya
standar aja. Dadanya? Hanya dia satu-satunya yang pake gaun menutupi dada tapi
membuka kedua bahunya. Cukup menonjol bulat, tapi jangan-jangan itu hanya model
bra-nya. Bagiku, indikasi toket gede adalah punya belahan atau tidak. Si gaun
hitam ini belahannya tertutup.
Yang ketiga, bergaun crem berbunga kecil,
agaknya yang paling ideal. Tubuh lumayan tinggi, pinggang ramping paha bersih
panjang, dadanya.. wow! Dengan gaun model, Toket nya yang gede seakan ingin
meloncat keluar. Nilai plusnya lagi: berambut panjang lurus sepinggang. Tapi
aku tak segera menyebut nomornya untuk dipesan. Aku Fokus menebar pandangan
lagi, jangan-jangan ada yang lebih bagus terlewat dari penelitianku.
“Sama saya aja Kak, nanti ku body sebelum ke message inti, mau di emut juga okeh,” kata ayam yang serba bulet tiba-tiba. Aku jadi tertarik sama omongannya.
“Dibody?”
“Iya, Pijet Plus.”
Body Message, karaoke, dan message inti. Ehemm..!
“Terus?”
“Pokoknya Kakak ditanggung puas.”
Iya puas, tapi ni cewek serba bulet bukan tipe
ak kataku, dalam hati tentu saja. Kamu mustinya menjalankan diet ketat supaya
pinggangmu berbentuk.
“Kalo mereka service-nya
sama nggak?” tanyaku.
“Tergantung orangnya sih Kak.”
“Tergantung orangnya sih Kak.”
Aku sejenak ragu sama
dia macam pelayanannya sudah jelas, tapi tubuhnya gak sesuai seleraku. Pilih Si Payudara
montok pas dengan selera, tapi bentuk pelayanannya belum jelas. Aku
kembali menebar pandangan. Rasanya aku tak menemukan target lain
sebaik Si Toket gede. Tapi aku mendapatkan informasi lain. Di pojok agak atas
tertempel karton di dinding dengan tulisan: Mulai 1 Februari 2011 Rp.
150.000/Jam.
“Pilih yang di dalam
juga silakan, gak pa-pa,” katanya, kudengar ada sedikit nada kecewanya.
“Kok gak ada tamu lain, sih?” tanyaku sekedar menetralkan.
“Baru jam setengah delapan masih sepi, nanti malem ramai,” jelasnya.
“Kok gak ada tamu lain, sih?” tanyaku sekedar menetralkan.
“Baru jam setengah delapan masih sepi, nanti malem ramai,” jelasnya.
Tak ada pesaing begini
memberiku keleluasaan untuk berpikir sebelum memutuskan. Anda jangan coba
menimbang-nimbang begini kalau lagi ramai, bisa-bisa pilihan Anda disambar tamu
lain.Akhirnya keputusanku bulat, pilih Si Toket montok. Keputusan yang agak
spekulatif sebenarnya. gak apa2lah, ini kan kedatangan pertama, hitung-hitung
cari tau dulu. Kusebutkan nomornya pada si Besar ini.
“Lis, tamu,” teriaknya.
Si Rambut panjang
bangkit dan menuju pintu. Ehem, aku tak salah pilih. Secara keseluruhan bentuk
badannya oke. Cara jalannya mirip peragawati di catwalk, sehingga sepasang
buahnya berguncang berirama.
Lisa, katanya begitu dia muncul di pintu menyodorkan tangan.
Aku tambah yakin, dadanya benar-benar menggiurkan. Lisa membimbingku menuju lorong. Tanganku langsung merangkul bahunya, bak sepasang pengantin yang menuju kamar bulan madu.
Lisa, katanya begitu dia muncul di pintu menyodorkan tangan.
Aku tambah yakin, dadanya benar-benar menggiurkan. Lisa membimbingku menuju lorong. Tanganku langsung merangkul bahunya, bak sepasang pengantin yang menuju kamar bulan madu.
Begitu Lisa menutup pintu kamar dan menguncinya,
Aku menyerbu memeluknya. Mulutku langsung menuju belahan Payudara nya. Menciumi
dan menggigit pelan.
“Eh.. bentar dong Kak,”
elaknya ramah.
Aku tak peduli. Kupelorotkan kemben dan branya, bulatan buah dada kanannya langsung muncul. Bulat indah, tak ada tanda-tanda turun walaupun sudah tentu sering dijamah orang. Kuteruskan ciumanku di dadanya, sampai kemudian aku “menyusu”.
“Kak ini gak sabaran ya?”
Aku tak peduli. Kupelorotkan kemben dan branya, bulatan buah dada kanannya langsung muncul. Bulat indah, tak ada tanda-tanda turun walaupun sudah tentu sering dijamah orang. Kuteruskan ciumanku di dadanya, sampai kemudian aku “menyusu”.
“Kak ini gak sabaran ya?”
Tak ada nada marah. Pelukan kuperkuat, tangan
kiriku turun meremes pantatnya.
“Sabar ya Kak..” katanya
melepas pelukan. Aku melepas tubuhnya.
“Pijit dulu aja,” sambungnya.
“Udah itu?”
“Kakak maunya apa?” tantangnya.
“Maunya service yang memuaskan.”
“Yang memuaskan yang gimana?”
“Body Message, karaoke, dan main,” serangku, meniru servis Si Besar tadi.
“Boleh. Buka baju dulu dong,” perintahnya.
“Bukain,” Aku balik memerintah.
“Ih.. manja,” tapi tangannya bergerak membuka kancing kemejaku, lalu singletku, kemudian ikat pinggangku.
“Ih, udah keras,” katanya menggenggam Kontol ku dari luar sebelum memelorotkan celanaku. Lisa berhenti ketika tinggal celana dalamku saja.
“Pijit dulu aja,” sambungnya.
“Udah itu?”
“Kakak maunya apa?” tantangnya.
“Maunya service yang memuaskan.”
“Yang memuaskan yang gimana?”
“Body Message, karaoke, dan main,” serangku, meniru servis Si Besar tadi.
“Boleh. Buka baju dulu dong,” perintahnya.
“Bukain,” Aku balik memerintah.
“Ih.. manja,” tapi tangannya bergerak membuka kancing kemejaku, lalu singletku, kemudian ikat pinggangku.
“Ih, udah keras,” katanya menggenggam Kontol ku dari luar sebelum memelorotkan celanaku. Lisa berhenti ketika tinggal celana dalamku saja.
“Buka semua dong..!”
pintaku.
“Nggak ah, takut. Hi hi.. Udah, Kak tiduran deh, entar Lisa Pijet dulu.”
“Nggak ah, takut. Hi hi.. Udah, Kak tiduran deh, entar Lisa Pijet dulu.”
ku rebahkan tubuhku ke ranjang maksiat, telentang. Tanpa ragu dan bak seperti pengantin baru, Lisa melepas gaunnya dan kemudian pembungkus payudaranya yang sedikit memaksa untuk dibungkus. Payudaranya memang luar biasa sizenya. bulat dan besar. Mungkin terlalu besar untuk ukuran tubuhnya yang tinggi dan langsing. Aku mengamati dadanya sambil ngaceng. Buah dada kanannya nyaris sempurna, bulat, besar, dengan pentil susu kemerah-merah menempel sempurna. Tapi tak simetris, buah kirinya agak turun, tak bulat benar. Lisa Lalu mengambil sebuah handuk dan ke kamar mandi.
“Lisa mandi dulu ya
Kak..!”
“Ya, cepet ya..!”
“Ya, cepet ya..!”
Keluar dari kamar mandi Lisa berbalut handuk.
Lisa membuang handuknya, hanya bercelana dalam.
“Telungkup dong Kak..!”
Aku membalikkan tubuhku. Lisa menduduki
pantatku. Kontol ku yang ngaceng terjepit, mengulas minyak ke punggungku, lalu
mulai mengurut. Cara mengurutnya kurang menekan, tidak seenak pemijat profesional
tentu saja.
“Kamu dari mana Lis?”
“Purwakerto, Kak.”
“Purwakerto, Kak.”
Selesai di pinggang dan punggungku, Lisa lalu
melepas celana dalamku sambil bilang maaf. Sopan sekali. Aku berbalik.
Pandangan Lisa sekilas mengarah ke Kontol ku yang mengacung tegang.
“Hi hi.. udah ngaceng
adiknya.”
“Kamu bugil juga dongg..!”
“Baiklah!!!” dengan tenang Lisa melepas handuk penutup tubuhnya itu. Bulu kemaluan lebat minta ampun menutupi seluruh permukaan kewanitaannya.
“Balik lagi, dong..!”
“Kamu bugil juga dongg..!”
“Baiklah!!!” dengan tenang Lisa melepas handuk penutup tubuhnya itu. Bulu kemaluan lebat minta ampun menutupi seluruh permukaan kewanitaannya.
“Balik lagi, dong..!”
Pantatku diPijet, lalu pahaku. Diurut dari
belakang lutut ke atas. Sampai di pangkal pahaku, entah sengaja atau tidak,
jempol tangannya menyentuh-nyentuh bijiku.
“Punggungnya lagi dong Lis..!”
Lisa menduduki pantatku lagi, bulu-bulu
kelaminnya terasa sekali mengelusi pantatku. Memang inilah maksudku dengan
meminta Pijet di punggung.
“Katanya body Message..”
tagihku.
“Entar dong Kak.”
“Dah, sekarang telentang.”
“Entar dong Kak.”
“Dah, sekarang telentang.”
Lisa menumpahkan minyak ke dada, perut, dan
Kontol ku. Lalu.. hup! Dia “meluncur” di atas tubuhku.
“Sreeng”. Aku bergidik
Gemetar karena nikmat. Kedua Payudara nya
diusap-usapkan dengan tekanan ke dadaku. Lalu turun ke perutku. Ini sih bukan
body Message, tepatnya “pijet payudara”. Payudara nya yang mengkilat berlumuran
minyak sering menggelincir di tubuhku. Tiga kali berurutan dada dan perutku
diPijet Payudara nya, lalu.. inilah yang membuatku berdesir kencang.
Lisa menumpahkan minyak di telapak tangannya
lalu mengoleskan di kedua Payudara nya. Buah itu makin mengkilat, dan putingnya
tegang! Lalu, bergantian kiri kanan, Payudara nya memijati kelaminku, mak! Tak
itu saja. Diletakkannya batang Kontol ku di belahan dadanya, lalu di”uyek”.
Lisa menggoyang tubuh atasnya bak penari salsa.
Inilah sebabnya mengapa kawanku menyarankan agar
aku memilih yang berdada besar. Sepasang daging kenyal memijati Kontol ku,
rasanya bagai terbang. Terbayang kan, kalau dada model “papan setrikaan”,
bukannya nikmat malah pegel. Aku harus sekuat tenaga manahan diri untuk tidak
ejakulasi. Apalagi nampaknya Lisa mengkonsentrasikan tekanan dadanya ke Kontol
ku.
Untung saja baru kemarin aku nge-critt. Kalau
tidak, mungkin aku sudah menyiram maniku ke payudara gede Lisa. Kadang aku
menghentikan gerakan liarnya, sekedar mengambil nafas panjang. Lalu
memerintahkan menggoyang lagi ketika aku sejenak memerintahkannya untuk STOP.
“Ga tahan mau ngecertt ya?” katanya.
Lisa menuruti komandoku. Oohh.. cukuplah
stimulasi ini, supaya aku bisa menikmati pelyanan Lisa lainnya selain pijet
payudara yang cukup membuatku kelabakan. Aku berhasil menahan diri, Lisa
bangkit.
“Bersih-bersih dulu yuk Kak!!” Ajaknya
Lisa menghilangkan minyak di dada, perut dan
Kontol ku dengan sabun. Lalu dia membersihkan tubuhnya sendiri. Ini memberiku
kesempatan untuk mengerem nafsuku yang tadi hampir meledak. Aku menurut saja
ketika Lisa megelap tubuhku dengan handuk, lalu merebahkan tubuhku telentang.
Mulailah servis ketiga.
Diciuminya perutku, terus turun ke pahaku, kanan
dan kiri sampai ke dengkul. Naik lagi menciumi kedua bijiku, bahkan
mengemotnya, satu persatu bergiliran bijiku Kakuk ke mulutnya. Giliran lidahnya
menjilati batang Kontol ku, dari pangkal ke ujung. Di sini dia memasukan kepala
Kontol ku ke mulutnya. Hanya sebentar, dilepas lagi dan mulai menjilati dari
pangkalnya lagi. Begitulah berulang-ulang sampai akhirnya dia melakukan blow
job seperti adegan oral sex di film biru. Kembali Aku harus berusaha untuk
tidak meledak. Lagi-lagi aku harus menyetopnya ketika kurasakan aku hampir
muncrat.
Bagian intipun dimulai.
“Pake kondom ya Kak..!”
Maksudku juga begitu. Aku tak mau ambil resiko bermain seks dengan perempuan sewaan begini tanpa pengaman.
“Tolong ambilin di saku celanaku..!”
“Saya bawa kok Kak.”
Dengan terampil dia meKakangkan kondom di Kontol ku. Berpengalaman dia rupanya.
“Kakak termasuk kuat, lho..!”
Ah, ini sih basa-basi standar seorang profesional.
“Ah, bisa aja kamu.”
“Bener lho, biasanya baru dibody aja udah keluar.”
Maksudku juga begitu. Aku tak mau ambil resiko bermain seks dengan perempuan sewaan begini tanpa pengaman.
“Tolong ambilin di saku celanaku..!”
“Saya bawa kok Kak.”
Dengan terampil dia meKakangkan kondom di Kontol ku. Berpengalaman dia rupanya.
“Kakak termasuk kuat, lho..!”
Ah, ini sih basa-basi standar seorang profesional.
“Ah, bisa aja kamu.”
“Bener lho, biasanya baru dibody aja udah keluar.”
Aku mencegah Lisa yang
mulai menaiki tubuhku. Aku kurang suka dengan posisi di bawah. Membatasi
gerakanku. Lisa telentang dan membuka kakinya lebar-lebar. Sambil mengulumi
putingnya. Belum sempat aku menggoyang, Lisa duluan memutar pantatnya. Yah,
posisi standar tak perlu diceritakan prosesnya kan? Anda sudah tahu. Kecuali,
beberapa kali aku terpaksa menyuruh Lisa diam, agar aku dapat memompa sambil
merasakan sensasi gesekan Kontol ku pada dinding-dinding vagina Lisa. Oh ya,
ada lagi yang perlu kuceritakan. Ketika aku mengambil Break dari gerakan
memompa, dengan trampilnya Lisa memainkan bagian dalam Memek nya
berdenyut-denyut teratur menyedoti Kontol ku. Rasanya Gan!!!! Susah
digambarkan. Semacam kompensasi dari lubangnya yang tak begitu erat menggenggam
Kontol ku. Maklum, sering dipakai. Bahkan sampai aku selesai dan rebah lemas
menindih tubuhnya, Lisa Fokus memainkan denyutan Memek nya! Aku tak menyesali
keputusanku untuk memilih Lisa dibanding Si Serba bulet tadi.
“Semua cewek di sana
tadi service-nya memang begini ya?” tanyaku membuka kebisuan.
Aku Fokus menindih tubuhnya, Kontol ku Fokus di dalam.
“Engga tahu dong, Kak. Cobain aja,” ada nada kurang senang yang tersirat.
“Bukan begitu, cuman pengin tahu aja.”
“Eh, bener kok Kak, Saya engga ada apa-apa. Tamu kan berhak memilih.”
“Kakak sering ngeseks ya,” kata Lisa ketika dia melepas kondom dan “memeriksa” isinya.
“Keluarnya dikit,” sambungnya. Tahu aja lagi dia.
“Jangan kapok ya, Kak..!”
“Engga dong,” Serangkaian servis yang disuguhkan Lisa memang memuaskanku.
“Sering-sering ke sini ya..!” Lagi-lagi ucapan basa-basi yang standar.
“Iya dong, kalau ada kesempatan lagi saya ke sini dan pilih kamu lagi.”
“Ah engga usah basa-basi, pasti Kakak pengin coba yang lain kan..?” Lagi-lagi, tahu aja lagi dia.
Aku Fokus menindih tubuhnya, Kontol ku Fokus di dalam.
“Engga tahu dong, Kak. Cobain aja,” ada nada kurang senang yang tersirat.
“Bukan begitu, cuman pengin tahu aja.”
“Eh, bener kok Kak, Saya engga ada apa-apa. Tamu kan berhak memilih.”
“Kakak sering ngeseks ya,” kata Lisa ketika dia melepas kondom dan “memeriksa” isinya.
“Keluarnya dikit,” sambungnya. Tahu aja lagi dia.
“Jangan kapok ya, Kak..!”
“Engga dong,” Serangkaian servis yang disuguhkan Lisa memang memuaskanku.
“Sering-sering ke sini ya..!” Lagi-lagi ucapan basa-basi yang standar.
“Iya dong, kalau ada kesempatan lagi saya ke sini dan pilih kamu lagi.”
“Ah engga usah basa-basi, pasti Kakak pengin coba yang lain kan..?” Lagi-lagi, tahu aja lagi dia.
Aku pun melajutkan ronde ke-dua hingga servis
yang diberikan Lisa selesai. Seminggu 3 kali aku rutin kemari, Servis Lisa yang
menurutku terbaik dari seluruh ayam-ayam yang ada disini terutama servis
pemanasan Pijet Toket Lisa yang gede dan yang paling inti dari utama adalah
empotan memeknya yang ruarrr biasa!!.
0 komentar :
Posting Komentar